Feeds:
Posts
Comments

Ke Mana Masa Mudamu?

Sebuah phone-call kemarin begitu membuatku terinspirasi. Satu panggilan dari teman satu pesantren mahasiswa yang membangkitkan semua kenangan tentang masa muda saat masih menjadi mahasiswa S-1, yang begitu menyenangkan dan berkesan.

Mungkin banyak mahasiswa punya kesan mendalam tentang masa-masa menjadi mahasiswa. Tapi pengalaman menjadi mahasiswa yang sekaligus ‘nyantri’ mungkin hanya dimiliki tidak sampai 1000 orang dari setengah juta pelajar yang tiap tahun menambah kepadatan kota itu, dan aku termasuk salah satu yang beruntung.

Pondok pesantren kami yang dikhususkan untuk mahasiswi terletak di tengah perkampungan yang padat penduduk, dengan bangunan yang sederhana. Satu kamar ditempati 3-5 mahasiswi. Semua fasilitas umum harus kami share, dari setrikaan sampai komputer, dari sandal hingga kamar mandi. Kami mengatur pergiliran piket memasak, mencuci, tausiyah sampai siapa yang menjadi imam shalat berjamaah. Mengajarkan kami tentang cara cepat dan tepat dalam melakukan banyak hal, manajemen waktu, pentingnya kedisiplinan, juga nikmatnya berbagi.

Kegiatan di sana amatlah padat dan membuat kami tak sempat memikirkan hal-hal yang tidak berguna. Dari sebelum subuh dibangunkan untuk qiyamullail, menghafal qur’an, dan jika subuh tiba kami sudah siap untuk mendirikan shalat dengan barisan yang rapi, walau terkadang dengan wajah yang sudah mengantuk (lagi).

Pemberian materi biasanya dilakukan ba’da subuh, magrib hingga isya. Setelah kajian subuh tentu merupakan waktu-waktu ‘chaos’ dimana semua bersiap untuk pergi ke kampus masing-masing. Yang antri mandi, mencuci, juga sarapan. Teriakan-teriakan seru saling mengingatkan siapa yang lupa mematikan keran, antrian mandi, menyetrika pakaian yang belum sempat disetrika saat gilirannya, juga teriakan yang paling dinanti: siapnya sarapan untuk disantap bersama.

Pukul 7 pagi merupakan awal sepi yang tenang di pesantren, karena hampir semua dari kami ‘terbang’ ke kampus masing-masing. Sebagian besar dari kami bukanlah belajar di jurusan keislaman. Aku kuliah di Fakultas Kedokteran, sekamar dengan temanku dari Kedokteran Gigi dan satunya lagi dari Psikologi. Tak heran jika ada salah satu di antara penghuni pesantren sakit, kamarkulah yang menjadi referensi. Pilek-pusing-batuk? Ada ahlinya. Gigi berlubang, nyeri gusi, sulit mengunyah? Ada solusinya. Cemas, stressed karena skripsi, kesepian? Ada tempat konsultasi. Cekak, bokek, transfer belum datang? Kalau yang ini tolong konsultasi dengan ortu masing-masing ya…hehehe. Karena kami juga sering memiliki masalah yang sama.

Saat petang menjelang, semua kami diharuskan untuk kembali ke pesantren. Magrib adalah masa pintu pagar ditutup, tak ada yang boleh keluar maupun masuk lagi. So, jika ada yang harus melakukan tugas malam maka tidak ada pilihan lain selain mencari tumpangan untuk menginap malam itu, karena sang Ustadz dan Ustadzah pembina kami tak akan menoleransi keterlambatan sedikit pun. Maka ada beberapa dari kami yang jadi langganan daftar konseling karena seringnya absen dalam kajian pesantren akibat tugas-tugas yang harus dikerjakan hingga larut malam ataupun mengikuti aktivitas organisasi kampus.

Yang menarik bahwa para pengisi kajian di pesantren kami bukanlah orang-orang yang hanya menguasai teori ataupun ustadz-ustazah yang miskin pengalaman alias baru saja lulus sekolah. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa kaya dengan pengalaman dakwah dari berbagai profesi. Ada apoteker yang juga ahli sirah nabawiyah karena lama belajar di pesantren. Ada lulusan bidang aqidah yang kaya dengan pengalaman dakwah di berbagai perkantoran, juga ahli ruqyah syariyyah, tabib yang handal. Ada juga ahli akhlaq yang menjadi contoh bagaimana sikap wara’ dan berhati-hati akan kehalalan rizki kami, dalam teladan yang ‘hidup’ dan menginspirasi. Para hafizh dan hafizah qur’an 30 juz juga didatangkan untuk memotivasi dan menghidupkan semangat kami saat ia naik-turun dalam menghafalkan al qur’anul karim, surat cinta dari Pencipta kita.

Saat teman-temanku bertanya, apakah kami pernah menikmati masa muda yang indah? Jika definisinya adalah bolos kuliah karena bertualang ke tempat-tempat yang unik, mencontek saat ujian karena tidak sempat belajar akibat dugem semalaman, maka aku bisa menjawab: kami punya masa-masa indah yang jauh berbeda.

Kegiatan tidak rutin yang kami lakukan adalah menjadi tim penyelenggaraan jenazah. Jika ada jenazah perempuan yang di kampung itu sulit untuk mendapatkan penyelenggara secara Islam, ataupun jenazah mahasiswi atau dosen yang memerlukan pelayanan segera, pesantren kami menjadi referensinya. Aku ingat jenazah yang pertama kali aku selenggarakan, memberi kesan yang amat mendalam tentang makna kematian. Seorang mahasiswi yang baru saja masuk Islam dan belajar berpuasa sunnah, lalu mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuatnya meninggal di lokasi kejadian. Darahnya terus mengalir dari hidung dan telinga (kurasa dia mengalami retak dasar tengkoraknya) sehingga menyulitkan saat kami menyiapkannya untuk dikafani. Dengan tanah liat yang dibakar, kami tutup kedua lubang itu untuk menghindari rembesan darah terus keluar, karena jenazahnya akan dikirim jauh ke rumah orang tuanya, sekitar 400 kilometer dari kota kami. Jenazah itu tersenyum, berbau wangi, walau mengalami luka parah. Pengalaman itu membuatku menyadari betapa maut itu begitu dekat, dan siap menjemput, maka persiapan terbaik harus kita lakukan setiap saat, tak perlu menunggu masa tua datang.

Masing-masing jenazah memberi hikmah yang berbeda, dan mendalam. Aku tak lagi iri dengan teman-teman yang sibuk mengikuti mode dari rok mini sampai midi, dari tas kepit sampai tas jinjing terbaru keluaran Perancis, gadget terbaru dan tercanggih, pacar dan gebetan yang tampan dan berpunya, karena semua itu kuyakini tak membawa kepada kebahagiaan yang kini mulai kurasakan. Damai tanpa rasa cemas, tenang tanpa rasa gelisah, keberanian tanpa rasa khawatir, optimisme yang menggebu. Melihat jenazah orang yang punya ‘segala’ membuat kami sadar, semua yang dimilikinya bukanlah yang masih ‘menempel’ saat kita menghadap sang Pencipta. Pasca penyelenggaraan jenazahnya, ada dorongan untuk meng-install hal-hal yang lebih pasti ‘menempel’ dalam diri dan dibawa pulang ke alam sana: keikhlasan, indahnya budi, amal shalih, hafalan qur’an, ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariyah yang punya multiplier-effect di masyarakat kita.

Maka kini saat aku merasa punya jabatan, ketika para kolega mengajak untuk ‘dugem’, dansa-dansi menikmati malam saat konferensi-konferensi digelar, atau menelurusi dunia gelap di kota-kota yang kami singgahi, aku bisa terbahak dan mengusulkan hal-hal lain yang lebih kreatif. Well…kalau ingin kebersamaan ini dikenang, bukankah lebih indah jika dilewatkan dengan menelusuri kenyataan hidup di tempat-tempat yang memperkaya jiwa kita? Mengunjungi kawasan kumuh, penjara, pengolahan sampah, memperoleh wejangan dari silaturrahim tokoh-tokoh masyarakat, mungkin dapat menjadi pilihan yang istimewa. Tak akan mereka dapatkan kecuali bergabung dengan orang-orang ‘aneh’ macam kami.

Kini aku dengan tersenyum dapat mengatakan, masa mudaku sangatlah indah dan menginspirasi. Thank You, Allah, You have given me so many wonderful and inspiring memories of my youth. How about you, dear friends?
ponpes mhs

artikel ini dapat didownload di analysis on DM block-Rosaria Indah-Mulyadi-Reza Maulana

Bagi rekan dan mahasiswa yang ingin download file bagaimana kami menyusun pelatihan DVI untuk mahasiswa FK silahkan download di
DVI Process-rosa

Silahkan download presentasi saya berikut:
Mendidik anak dg Sabar dan Syukur

Dai harus mencapai level mubaligh

Demam Berdarah Dengue

Ini adalah power point terkait demam berdarah dengue (DBD). Materi ini diperlukan saat pelatihan praktikum The Seven Jumps. Silahkan download ….
DEMAM DENGUE saja-rosa

Untuk para mahasiswaku yang ingin memahami bagaimana berkomunikasi dengan profesi lain silahkan download file berikut:
komunikasi interprofesional yang efektif